selasa bersama Morrie? judul yang aneh, tidak biasa, kug judulnya gitu? mungkin itu yang ada dalam pikiran anda, namun bila anda telah membaca buku ini, maka pikiran anda akan berubah. menjadi wow... ternyata.... begitu ya...

buku ini menceritakan tentang kuliah tambahan seorang mahasiswa terhadap mantang dosennya setiap hari selasa, dan upacara kematian adalah wisudanya....
buku ini menceritakan tentang makna hidup seorang profesor tua yang terserang penyakit mematikan dan telah di vonis akan meninggal....
ceritanya dimulai ketika Mitch mengetahui bahwa Morrie, mantan profesor yang dikaguminya di Harvard, menderita penyakit yang merusak kerja sistem sarafnya, Mitch datang untuk menemuinya. Walaupun semula hanya bermaksud menepati janji untuk tetap saling mengabari, ternyata Mitch menemukan bahwa semangat dan cara pandang Morrie yang hidupnya tak lama lagi justru lebih berani dibanding orang lain.
Sejak itu dimulailah “kuliah” pribadi mereka yang berlangsung setiap hari Selasa. Guru dan murid ini membahas beberapa hal mendasar yang sering menjadi pertanyaan setiap manusia sebagai individu, misalnya tentang keluarga, makna hidup, ketakutan, perkawinan, hingga kematian.
Tuesdays with Morrie bukan hanya sekadar buku tapi pelajaran berharga tentang cinta, kasih sayang dan di atas segalanya tentang kehidupan. Bukan hanya sekadar hidup dalam artian sekadar menjalani kehidupan tapi bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna, atau seperti orang Inggris bilang “Live life to the fullest”.
Dalam buku ini, Morrie Schwart, seorang dosen yang didiagnosa menderita ALS dan hanya memiliki sisa hidup beberapa bulan lagi, mengajarkan bagaimana kita harus menghadapi dan menjalani kehidupan dengan mengedepankan cinta.
Apa yang dikemukakan dalam buku sebenarnya memang menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Manusia seringkali lupa dengan makna dan tujuan hidup mereka yang sebenarnya. Mereka terlalu sibuk mengejar materi, pekerjaan, dan hal-hal lain yang menurut mereka penting, tapi sebenarnya tak lebih dari hanya memberikan kebahagiaan semu. Masyarakat, di manapun itu, telah dikonstruksi untuk menilai keberhasilan seseorang dari segi kekayaan, jabatan, status sosial dan hal-hal material lainnya. Sehingga tiap orang berlomba-lomba untuk mengejar hal tersebut dalam kehidupan mereka. Sehingga pada akhirnya mereka menjadi seperti yang disebut Morrie, orang-orang yang hidup tapi seperti orang mati. Hidup hanya seperti robot.Dengan kondisi masyarakat yang seperti itu, kehadiran Tuesdays with Morrie seperti oase di tengah padang pasir yang memberikan pelega dahaga bagi jiwa yang kering.
Hidup dalam pandangan Morrie tidak dinilai dari seberapa kaya kita atau seberapa tinggi jabatan kita ataupun status sosial kita. Hidup yang bermakna katanya adalah jika kita sudah bisa memberikan sesuatu bagi orang lain, bagi lingkungan, dan bagi masyarakat luas. Dan dengan itu hidup akan lebih berarti.
Jika Morrie bisa merepresentasikan orang yang sudah penuh dengan pengalaman hidup, maka muridnya Mitch Albom, yang juga menjadi penulis buku ini, bisa dijadikan gambaran orang-orang yang seringkali kita jumpai, orang yang mengejar materi dan karier.
Jika Mitch Albom belajar banyak dari kebijaksanaan Morrie, maka kita para pembacanya juga bisa belajar hal yang sama melalui buku ini.
Tuedays with Morrie bercerita dengan gaya yang sederhana tapi sangat menyentuh. Saya yakin siapapun yang membaca buku ini pasti akan merasa tersentuh dan merenung tentang kehidupan yang sudah kita dijalani selama ini. Pelajaran yang diberikan Morrie membuat kita merasa nyaman dan ‘be at peace with ourselves’.
Memang hidup dengan hanya mengandalkan materi tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang nyata. Hanya dengan kasih sayang dan cinta kepada sesama kita bisa benar-benar menghargai hidup. Seperti kata Morrie ‘Love always wins’!






0 komentar:
Posting Komentar